Kamis, 19 September 2019

Risau 22 Spetember

from google
"Risau 22 September"
sejak saat itu kita telah sepakat dengan perjanjian tak terukir.
‌perjalanan panjang dengan kenangan tawa, hingga aliran air mata.
‌tak sekali dua kali itu terjadi, sudah sering terjadi berkali-kali dan menjadi rindu.
‌kita telah terpisah oleh jarak, namun tak terpisah akan hubungan satu kita, walau terkadang memaksakan melintasinya demi sebuah pertemuan.
‌kita sedang mencoba untuk menggapai puncak bersama, puncak nan indah sebagai tolak ukur kebersamaan yang diakui.
‌sesuatu yang tidak mudah bagi kita lalui, bak namamu yang tinggi, memang butuh usaha yang keras saking tingginya.
‌atau makna lainnya yang tajam akan menimbulkan luka. luka kelak sebagai penanda bahwa perjuangan ini tidak mudah.
‌masih mendayu-dayu alunan suaramu, kadang menjadi terbahak-bahak kadangenjadi isak tangis yang sempurna dengan keluhanmu dan keluhanku.
‌Mungkin saja akan menjadi energi baru, dalam menapaki jalan ini, tapi juga mampu menjadikan diri lemah tak berdaya, seolah kehilangan asah.
‌aku menatap purnama menguning, kamu mungkin tak melihat keindahannya. Keindahan yang memberi harapan.
‌esok lusa sang bulan akan menjadi sabit, bulan depan akan kembali purnama indah.
‌ah, untungnya kita tidak pernah benar-benar putus asah. Sebab keindahan menanti kita di sana.
‌perjalanan masih berlangsung dan jalan masih ada.
‌apakah kita akan berhenti di sini?
‌mungkin kita akan memelankan langkah sejenak mengumpulkan energi, terseok-seok pun tetap berjalan
‌ehmm... September yang risau dan kita masih melangkah.
Makassar, 20 september 2019
Share:

0 komentar:

Posting Komentar