Sering
kita dengar soal perampasan atas hak-hak dasar rakyat di negeri yang kita
cintai ini tapi akan selalu ada perlawanan di setiap tirani. Namun perlawanan
yang seperti apa ditunjukkan? Metode perlawanan yang bagaimana yang digunakan?.
Pertanyaan demikian masih menjadi pekerjaan mereka yang senantiasa membentuk
kebudayaan yang maju. Mereka yang siap mengabdikan dirinya kepada rakyat
tertindas. Sikap
demikian biasanya banyak terjadi dikalangan mahasiswa saja, memilih jalan hidup
sebagai aktivis yang mengangkat isu-isu pendidikan, bahkan menyikapi persoalan
yang terjadi di luar kampus. Aktivis kampus yang melenggang bebas di panggung
pendapat hanya menyikapi sesuatu yang bisa menguntungkan segelintir mereka
saja, dengan tujuan menunjukkan diri demi lirikan relasi politk dengan harapan
pasca menjadi mahasiswa akan memudahkan mereka dalam deal-deal politik.
Sehingga stigma yang terbangun adalah ketika mahasiswa memberontak atas nama
penindasan dan setelah menjadi pejabat yang justru akan berbalik menindas.
Kemudian mahasiswa masa setelahnya juga begitu dan begitu seterusnya. Hal ini
sudah menjadi hukum dalam pergerakan yang seperti itu?. Namun ada juga aktivis
yang menyikapi sesuatu yang pada dasarnya menjadi persoalan bersama atas
keadaan yang buruk ini, sebab persoalan negeri ini saling berhubungan satu sama
lain, menjadikan mereka harus terus belajar dan berpraktek kemudian mendekatkan
diri kepada massa rakyat untuk belajar dari penderitaan rakyat dan tanpa
kompromi dalam menyikapi sesuatu. Mereka yang bergerak dengan membangkitkan,
mengorganisasikan dan bergerak bersama massa, terus memperbesar kekuatan dengan
senantiasa menilai pekerjaanya secara disiplin dan dilakukan setahap demi
setahap.
Nah,
bagaimana bila sudah tidak menyandang status mahasiswa lagi?. lanjut
Mereka
yang masih memikirkan dirinya sendiri akan mencari relasi yang melirik mereka
sebelumnya untuk mendapatkan sesuatu paling tidak petunjuk dari orang-orang
yang mereka teriaki saat mahasiswa lalu (Kan, tujuannya memang itu). Sementara
di sisi lain, ada yang juga yang berusaha sendiri-sendiri bersaing mencari
kerja di tengah maraknya pengangguran lulusan bertitel sarjana. Bahkan yang
dulunya berkawan akrab di kehidupan kampus akan saling bersaing untuk sebuah
pekerjaan di dunia nyata. Tapi berbeda dengan mereka yang masih setia
mengabdikan diri kepada rakyat, tentunya hidup mereka sederhana di
tengah-tengah rakyat. Mereka yang hidup bersama rakyat, makan bersama rakyat
dan terus melakukan upaya pengorganisasian dan gerakan untuk menuntut hak-hak
mereka bersama rakyat. Jangankan lulusan sarjana S1 lulusan S2 pun ada yang
konsisten mengabdikan dirinya kepada massa rakyat. Ketika mereka-mereka yang
masih konsisten melakukan hal seperti ini dan orang-orang disekelilingnya
bilang itu adalah sisa-sisa idealisme bawaan dari mahasiswa, (“sampai kapan idealismemu itu mau kau bawa?”).
Pernyataan ini jelas terbantahkan, sebab yang mereka lakukan bukan persoalan pemikiran tapi perut, bukan persoalan ide
tapi terang ini adalah persoalan materi
yang akan masuk keperut rakyat, materi
yang akan dikelolah rakyat untuk bertahan hidup.
Tentunya
perjuangan mereka yang konsisten di gerakan rakyat ini tidak akan didapatkan
dengan mudah dan cepat untuk mereka mendapatkan cita-citanya yang gilang
gemilang, tapi yang mereka lakukan saat ini adalah sebuah langkah yang untuk
mencapai cita-cita tersebut. Memang sulit tapi bukan tidak mungkin, bahkan bisa
saja mereka tidak sampai pada kemenangan itu tapi akan dilanjutkan dinikmati
oleh anak cucunya kelak.

0 komentar:
Posting Komentar